Belajar dari Filosofi Jagung
Suatu ketika, seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya, yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.
“Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.
“Tak tahukah anda?,” jawab petani itu.
“Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”
Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula.
Sungguh…nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.






February 8th, 2010 at 2:54 am
SALAM SUPER….
Apa hal ini dapat dijadikan ucuan untuk tiap perkara ??? Yang saya tahu jaman sekarang begitu kejam, tidak menutup kemungkinan ada tetangga yang karena sifat buruk ingin merusak ladangan sang petani agar dia mendapat kesempatan mengikuti lomba dan menjadi seorang terkenal seperti sang petani. Bukankah hal ini ibarat senjata makan tuan.
[Reply]
February 8th, 2010 at 8:51 am
Super sekali! Sebelum ini, saya cenderung berpikir untuk menjadikan diri sendiri hebat tanpa menolong orang lain untuk mencapai keberhasilan hidup, ternyata pandangan saya kurang lengkap.
Thanks for great article!
[Reply]
February 9th, 2010 at 8:28 am
salam super
terima kasih cerita penuh inspirasinya. memang benar dalam hidup bermasyarakat kita semestinya saling membantu tuk kebaikan kita juga.
[Reply]
February 10th, 2010 at 6:41 am
@Sobat Edy: Yup..cerita ini hanya ilustrasi kecil saja. Dan tentunya ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata dengan gaya/style yang disesuaikan. Anda masih ingat konsep bahwa sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan pasti dihitung?, pun sebaliknya sekecil apapun keburukan yang kita perbuat pasti dimintai pertanggungjawaban. Dan ingatlah saat ini perhitungan itu tengah berjalan. Jangan risaukan orang akan berbuat keburukan kepada kita, tapi risaukanlah jika keburukan kita ternyata lebih banyak daripada kebaikan kita.
@Sobat Hangga, Yani: Betul sobat, semoga kita selalu diberikan kekuatan agar bisa memberikan manfaat bagi sesama.
[Reply]
February 19th, 2010 at 2:47 am
setuju..
kita akan lebih baik jika lingkungan sendiri juga kita angkat ke yang lebih baik.
[Reply]
February 8th, 2011 at 3:06 am
Tapi,,bagaimana cara kita membagi bibit jagung yang kita miliki kepada tetangga kita..karena terkadang tetangga kita melihat dengan sudut mata yang berbeda….
[Reply]
July 18th, 2011 at 6:46 am
Supeeerrrr…, kadang hati kita penuh kebusukan sehingga kita enggan berbuat kebaikan pada semua orang. Kita hanya berbuat pada orang yang baik di mata kita. Sementara, kita tidak melihat sudut pandang yang lain (dari kita). Tentu, dari orang yang tidak menyukai kita.
[Reply]
September 30th, 2011 at 4:46 am
superrr..suatu kbaikan akan sllu brbuah kbaikan,, mantaapz..
[Reply]
December 3rd, 2011 at 9:07 am
iya setuju banget saya juga mendukungt untuk lebih baik
[Reply]