Belajar dari Nabi Yunus
Suatu saat, melalui malaikat Jibril, Allah meminta Yunus mengingatkan penduduk Ninawa di Mosul, wilayah Irak, agar tidak menyembah berhala. Rupanya, Yunus **seperti diriwayatkan Imam Thabari** meminta waktu sejenak untuk mencari kendaraan tunggangannya. Jibril tak mengizinkan: ”Urusannya lebih penting dari itu.”
Bahkan, untuk mencari sandalnya, Jibril tidak membolehkan. Itu yang membuat Yunus jengkel. Di perjalanan, kapal yang ditumpangi Yunus dihantam badai. ”Ini pasti karena dosa dan kesalahan salah seorang dari kita,” ujar orang-orang di kapal. Yunus mengakui kesalahannya, dan meminta agar dirinya dilemparkan ke laut.
Dalam sebuah tafsir tertulis, selagi kapal itu oleng ditimpa badai **bisa tenggelam karena kelebihan muatan** sang nakhoda menawarkan solusi: ”Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua.” Yunus pun menawarkan diri untuk diceburkan ke laut. Akan tetapi penumpang lain tidak setuju.
Maka kemudian dilakukan pengundian. Siapa yang terpilih harus diceburkan ke laut. Tapi celakanya, tiga kali undian dilakukan, lagi-lagi terpilih Yunus. Apa boleh buat, dia melepas pakaiannya dan menceburkan diri ke laut. Ikan paus besar pun menelannya.
Diriwayatkan, 40 hari Yunus berada di dalam perut ikan. Ia bermunajat, mengakui kesalahannya. Yunus mengajarkan kepada umat untuk berani mengakui kesalahan, sekalipun tersembunyi. Isi hati kita memang tidak diketahui oleh siapa pun, tapi Allah tetap mencatatnya. Dalam keadaan apa pun, Yunus memang tidak bisa melepaskan kedekatannya pada Allah.
Baru-baru ini, dalam sebuah survei di Amerika Serikat, para milyader pun mendudukkan Tuhan sebagai tempat untuk mengatasi masalah bisnis mereka. Mereka belajar mendengarkan suara Tuhan, kala meneken tawaran bisnis yang disodorkan.
Selain itu, para milyarder sangat menghargai uang. Gaya hidup positif lain adalah loyal pada pasangan, punya integritas (janjinya bisa dipegang), berdisiplin tinggi, tidak serakah, dan selalu mengembangkan social skill serta sportif. Yang mengagetkan, mereka mengaku mentornya adalah: ”Tuhan”.
Di dalam kesendirian, di situlah sesungguhnya kemerdekaan seseorang hampir sempurna. Kita bisa berdialog dengan-Nya, tanpa sekat dan jarak. Semua ilmu para nabi itu diperoleh tanpa buku, tanpa guru.

















