Merayakan Peringatan Maulid Nabi
Ada suatu kisah menarik dari pengalaman seorang pengembara muda. Dia adalah warga Amerika, dari kecil selalu berpikir mau jadi pengembara, ingin berkelana melihat lihat dunia luar, jadi ia ingin pergi berkeliling dunia, nanti setelah kembali mau melanjutkan sekolah di universitas. Biarpun ayahnya seorang dokter, ekonomi keluarga memungkinkan, tetapi ayah ibunya tidak memberinya uang dan dia juga tidak memintanya dari mereka.
Sesudah tamat SMA, maka dia segera pergi ke hutan Alaska untuk memotong kayu untuk menabung. Karena di Alaska saat musim panas siang hari sangat panjang, matahari baru terbenam kira-kira tengah malam dan sebentar kemudian jam 3 subuh sudah terbit lagi. Jika dalam sehari dia bisa bekerja 16 jam, memotong kayu selama 1 musim, maka dia bisa menabung untuk keliling dunia selama 3 musim. Maka setelah keliling dunia 2 tahun akhirnya kembali ke sekolah untuk meneruskan pelajaran di Universitas. Dan karena hal ini adalah dirinya sendiri yang memikirkan matang-matang dan secara mendalam, maka jurusan pilihannya yang semestinya perlu 4 tahun untuk lulus, diselesaikannya dalam waktu 3 tahun. Setelah itu mulai mencari pekerjaan. Karirnya cukup baik, bisa dibilang searah dengan arah angin, lancar naik terus sampai ke posisi kepala insinyur/manajer teknik. (more…)
Suatu saat, melalui malaikat Jibril, Allah meminta Yunus mengingatkan penduduk Ninawa di Mosul, wilayah Irak, agar tidak menyembah berhala. Rupanya, Yunus **seperti diriwayatkan Imam Thabari** meminta waktu sejenak untuk mencari kendaraan tunggangannya. Jibril tak mengizinkan: ”Urusannya lebih penting dari itu.”
Bahkan, untuk mencari sandalnya, Jibril tidak membolehkan. Itu yang membuat Yunus jengkel. Di perjalanan, kapal yang ditumpangi Yunus dihantam badai. ”Ini pasti karena dosa dan kesalahan salah seorang dari kita,” ujar orang-orang di kapal. Yunus mengakui kesalahannya, dan meminta agar dirinya dilemparkan ke laut.
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un, hari ini Rabu, 30 Desember 2009, puku 18.45 WIB, Kita telah ditinggalkan oleh salah seorang putra terbaik sekaligus guru bangsa; mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (GUS DUR). Gus Dur wafat pada usia 69 tahun; beliau wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. salamsuper[dot]com turut belasungkawa atas wafat-nya mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (GUS DUR). ‘Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wawassi’ madkholahu wa a’idzhu min adzaabil qobri wa ‘adzaabinnaar wa adkhilhuljannata ma’al abrar’.
Kematian atau ajal adalah sesuatu yang pasti akan datang menjemput kepada setiap mahluk hidup. Semakin bertambah umur kita, semakin dekat kepada ajal. Dan semakin dekat dengan ajal, semakin dekat pula dengan liang kubur. (more…)
Hari ini adalah hari pertama di Bulan Muharram 1431 H. Bulan muharam adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram (suci), sebagai mana yang difirmankan oleh Allah:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. (At-Taubah: 36).
Semua ahli tafsir sepakat bahwa empat bulan yang tersebut dalam ayat di atas adalah Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab.
Ketika haji wada’ Rasulallah bersabda:
Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Setahun ada dua belas bulan, empat darinya adalah bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).
Ketika manusia pertama, Nabi Adam as, selesai diciptakan, Allah Swt memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada nabi Adam as. Namun Iblis membangkang dengan dalih bahwa mereka lebih baik (mulia) dari Nabi Adam as. Iblis merasa bahwa api lebih baik daripada tanah. Konsekuensinya, Allah Swt mengusir mereka dari surga dan mengutuk mereka. Lalu Iblis minta izin Allah untuk menggoda manusia. Allah pun mengizinkan.
Firman Allah Swt, “…Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” (QS al-A’raf [7]: 16-17). Sepertinya Iblis berhasil melaksanakan janjinya, karena banyak diantara kita yang tidak bersyukur atas karunia dan rahmat Allah Swt.
Tidak terasa waktu bergulir, bagi kaum muslimin hari ini telah memasuki hari ke-3 dari salah satu bulan yang terbilang istimewa, yaitu bulan Dzul-hijjah. Bulan Dzul-hijjah memiliki keutamaan dibanding bulan-bulan yang lain. Pada bulan ini Allah Swt turunkan ayat yang menyatakan Allah Swt telah menyempurnakan Islam. Firman-Nya, “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…,” (QS:Al-Maidah [5]:3).
Keutamaan lain yang dimiliki bulan Dzul-hijjah adalah hari Arafah. Hari Arafah adalah hari ke-9 dari bulan dzulhijjah. Tahun ini kalau tidak ada perubahan dari pemerintah, Insya Allah akan jatuh pada hari Kamis, 26 November 2009.
Sebuah hadits mengabarkan bahwa orang yang berpuasa pada hari Arafah akan diampuni Allah Swt dosa-dosanya, setahun sebelumnya dan sesudahnya. Sabda lain Rasulallah Saw, “Puasa Arafah, saya mengharapkan kepada Allah Swt agar mengampuni dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya…” (HR Muslim).
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibanding dirinya. Tak terkecuali seorang penjahat sekalipun, dia akan berharap buah hati-nya kelak akan tumbuh menjadi orang yang baik. Tapi sangat kecil kemungkinan seorang anak akan tumbuh menjadi orang baik, kalau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kurang baik, diberikan makanan dari hasil yang tidak baik, serta diberikan penasihatan-penasihatan yang jauh dari kebaikan.
Banyak contoh yang bisa kita tiru dari kehidupan orang-orang shaleh terdahulu, untuk mempersiakan anaknya menajadi orang baik dan membawa kebaikan. Salah satu kisah yang sangat terkenal adalah kisah Luqman Hakim. Luqman Hakim bukanlah seorang nabi dan rasul, dia hanyalah manusia biasa.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan pujian dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al Baqarah: 155-157)
Musibah yang datang silih berganti menimpa negeri tercinta ini, dari tsunami Aceh, gempa Yogya, gempa Pangandaran, gempa Tasikmalaya, dan terakhir gempa dahsyat yang mengguncang tanah Minang, Padang dan sekitarnya. Semua musibah ini hendaknya membuat kita introspeksi, sabar, dan semakin dekat kepada Allah. (more…)
Al-qadar artinya keagungan. Dan dalam ajaran Islam, ia telah diabadikan menjadi nama dari suatu malam di antara malam-malam bulan Ramadhan. Itulah ” Lailatul-Qodar”. Malam di mana sang hamba pada saat itu terbangun. Mensucikan diri. Menghadap Tuhannya yang menciptakan dirinya dan seluruh alam yang ia diami. Malam, yang sepenuhnya menyatu dalam kekhusukan sujud.
Malam, yang datang seirama dengan dzikir dan tangis sang hamba di belahan bumi manapun; di pojok-pojok masjid dan di rumah-rumah di tengah keterpencilan kampung.
Di malam itulah, ia telah menemukan identitas kehambaan yang sebenarnya. Ia telah terbebas dari penyakit ‘Riyak’ (ingin dipuji orang), ketika ia sembahyang, dimana semua manusia sedang nyenyak dalam tidur… ketika ia menagis beristighfar, hanya di depan Tuhannya ( bukan di depan siapa-siapa, bukan di depan uang dan patung dunia lainnya).
Demikianlah setidaknya, seorang hamba di Lailatul Qodar, itu. Dan betapa kwalitas kehambaan itu kian lengkap, ketika ia memburu malam-malamnya, seperti memburyu Lailatul qodar. ( Dan semoga kita termasuk dalam model hamba yang semacam ini ameen). (more…)